Dari Reruntuhan 5.0 Skala Richter
Dari Reruntuhan 5.0 Skala Richter
oleh M. Romyan Fauzan

Rumah kecil itu… tempatku berteduh…
Sebuah lagu dari Salma Salsabil, berjudul ‘Rumah” mengalun dengan sendu. Lagu yang menenangkan. Rumah adalah tempat berteduh dari panas matahari, rintik hujan, juga tempat kembali dari berbagai persoalan sehari-hari, setidaknya tempat istirah ketika esok menghadapi masalah hidup lagi.
Sudah hampir dua minggu, sejak gempa berkekuatan 5.0 skala richter menerjang kampung kami, Desa Cikembang, Kecamatan Kertasari. Tepatnya sejak Rabu, 18 September 2024 kami menjalani masa-masa yang berbeda dari biasanya. Masih tersisa genteng-genteng yang belum sempat dirapikan di saat musim hujan mungkin akan segera tiba, tumpukan bata merah bercampur tembok kering yang bergeletakan, dinding-dinding tembok yang retak, yang terbelah, yang ditutupi oleh apa saja yang bisa melindungi diri dari angin, hujan, panas matahari. Pecahan-pecahan kaca jendela, pecahan piring gelas di lemari rumah, juga televisi-televisi yang retak. Dan sebagainya dan sebagainya.
Semua itu telah Tuhan tuliskan untuk takdir kami. Tak mampu mengelak sebab kami hanya penerima atas apa yang telah menjadi takdir-Nya. Dan tentu saja hidup kami harus terus berjalan, harus menjalaninya. Kami harus tetap kuat menghadapinya karena cobaan memang ada untuk kita mencoba melewatinya. Meski memang nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab untuk berdiri saja rasa-rasanya semua orang di kampung kami merasa takut.
Seminggu kami tak menentu sejak gempa itu. Rasa takut tentu saja menghantui. Bumi yang bergetar sesekali masih terngiang dalam lamunan, bahkan dalam kenyataannya memang ada gempa susulan. Sedangkan kami harus mencoba terbiasa, alangkah tak mudah. Malam-malam kami dalam tenda bantuan pun, dengan dingin ujung musim kemarau membuat kami jauh dari nyaman.
Seorang balita beberapa hari setelah gempa akhirnya meninggal karena tertimpa reruntuhan, temannya mengalami gejala psikologis karena trauma berat setelah terlempar ketika bermain, seseorang dikabarkan di kepalanya terkena reruntuhan dan dijahit sebanyak duapuluh lima jahitan, dan entah berapa ribu orang yang mengalami trauma dan entah bagaimana juga cara menyembuhkannya satu persatu.
Kami harus tetap kuat menghadapinya karena cobaan memang ada untuk kita mencoba melewatinya. Karena hidup terus berjalan.
Donasi Berdatangan
Kami tak patut menyalahkan siapapun ketika kami dalam keadaan bimbang tak menentu, tak patut menyalahkan manusia lainnya, terlebih Gusti Allah. Terlebih jarang juga dalam keseharian kami menyalahkan diri sendiri. Mungkin inilah saatnya kami berkaca, tentang apa yang sudah kami lakukan kepada alam selama ini. Sudah saatnya lebih tahu diri ketika berhadapan dengan alam dan pemilik-Nya, dan manusia lainnya.
Manusia lainnya yang ternyata ketika rapuh begini sangat peduli pada kami. Yang ketika harus terus menjalani hari namun sulit, ada mereka yang menopang, orang-orang baik itu, yang telah meninggalkan keluarga mereka di rumahnya hanya untuk memberikan bantuan pada kami yang memang untuk tegak berdiri saja masih ketakutan akan getaran, terlebih berjalan.
Ya, orang-orang berdatangan membawa bantuan. Mereka hanya butuh waktu hitungan jam, hitungan hari, untuk mengumpulkan bantuan untuk kami. Buat kami itu menakjubkan, keajaiban yang memang kami butuhkan dalam keadaan begini. Berbondong-bondong membawa kami ke titik haru. Dan entah bagaimana membalasnya.
Tak bisa menyebut satu persatu dari mereka, yang telah datang ke berbagai penjuru titik posko, bantuan doa, material, atau tenaga. Dan mereka merasakan juga kerapuhan kami. Indahnya kesalehan sosial. Begitu bermaknanya kaitan hati dan hati manusia. Terima kasih Tuhan.
Terima kasih untuk bantuan-bantuan yang telah datang, Terima kasih kami ucapkan. Sedang sikap kami mungkin tidak semuanya menyenangkan bagi mereka yang telah datang membantu, baik sikap atau orang-orang di tempat kami. Maafkan jika banyak yang mengecewakan dari kami. Kami tentu harus lebih banyak belajar bagaimana menerima tamu dengan baik. Belajar berterima kasih dengan baik dan benar.
Hati-hati di jalan para relawan, kalian adalah para pahlawan bagi kami. Salam untuk keluarga di rumah, ya. Terima kasih telah mampir dan memberikan segalanya bagi kami di sini. Doa terbaik untuk para relawan dari kami di sini.

Kami Ingin Segera Pulih
Setelah bantuan datang dari berbagai komunitas, lembaga formal dan non-formal, sanak saudara, di mana mereka semua memliki juga kehidupan masing-masing. Tentu ada saatnya kami belajar untuk pulih.
Anak-anak mulai kembali sekolah, mulai lagi memakai seragam, mencoba kembali bersahabat dengan dinding kelas yang kini terasa agak berbeda. Para petani kembali berkebun, meski dalam hati kecil, takut pula sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Getaran itu.
Belajar pulih memang tak mudah. Namun kami harus kuat menjalaninya. Butuh waktu untuk kembali menjadi biasa. Yang hari-hari ini masih seolah-olah biasa. Yang cerita-ceritanya masih menjadi teman kami sehari-hari.
Butuh waktu untuk kembali menjadi biasa. Setelah kejadian luar biasa. Saatnya kami berjalan lagi, meski tertatih. Lambat laun tentu kami akan pulih. Kami tidak akan lupa bagaimana mereka yang datang, dengan kasih sayangnya, membantu kami berdiri dan berjalan.
Dua minggu ini penuh dengan cerita yang tentu tidak cukup untuk dituliskan dalam cerita sederhana ini. Cerita lucu tentang siswa yang melompat dari lantai dua hingga dikabarkan meninggal padahal ia memang sempat dilarikan ke rumah sakit namun kini sudah bisa kembali tertawa bersama teman-temannya.
Cerita lucu tentang petani yang hampir saja terkubur tanah ketika berada di kebun. Tentang seseorang yang tak jadi buang air besar karena getaran itu tiba dan tiba-tiba dia sulit membuka kunci kamar mandi. Tentang seseorang yang linglung karena jatuh dari motornya tiba-tiba, hingga ia sadar tiang listrik sudah jatuh di depannya. Tentang cerita tenda-tenda pengungsian yang setiap harinya masak bersama warga-warganya. Cerita lucu tentang bantuan-bantuan yang datang dan malah menjadi seteru antar warga, antar tetangga, bahkan antar saudara. Dan semua itu sebetulnya hanya akan jadi kenangan pada akhirnya.
Semoga semua itu hanya menjadi cerita lalu saja bagi kami, juga bagi semua. Sebab meskipun lucu. Tapi kami tak ingin mengulanginya. Kami ingin hidup seperti sedia kala. Menikmati hari-hari, perjuangan para petani, pedagang, pemerintahan, sekolah, dan semuanya pulih seperti sedia kala. Kami akan mencoba mencintai kehidupan lebih lagi sebagai manusia yang peduli manusia lainnya.
Masih banyak yang harus kami rapikan hingga menjadi biasa. Doakan kami bisa kembali seperti sedia kala secepatnya, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih untuk semua.
Rumah kecil itu… tempatku berteduh…
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Artikel Pendidikan: Sastra(Wan) Membaca Kurikulum, Guru Membaca, dan Membaca Guru
Sastra(Wan) Membaca Kurikulum, Guru Membaca, dan Membaca Guru Oleh M. Romyan Fauzan kita pernah punya mimpi seragam menggembalakan masa lalu dan masa kini di atas ladang-ladang mati
Artikel Pendidikan: Pentingnya Filsafat Islam dalam Sistem Pendidikan
Filsafat Islam dalam Dunia Pendidikan Oleh H. Muhammad Romyan Fauzan, S.S., M.Pd. Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yakni fal
Sejenak Puisi : Puisi Karya M. Romyan Fauzan
Agustus yang Baik Karya M. Romyan Fauzan Kemerdekaan adalah mencintaimu dengan tabah, kekasih. Sehelai bendera dipeluk angin diguyur hujan dibakar matahari, tegak mengibari cakr
Artikel Pendidikan: Study Tour atau Liburan?
Study Tour atau Liburan? Oleh M. Romyan Fauzan Liburan adalah sebuah peristiwa di mana orang-orang menikmati waktu istirahat setelah sekian lama beraktifitas. Jika biasanya di akhir m
Artikel Pendidikan: Sekolah Ber- dan Tanpa Tujuan
Sekolah Ber- dan Tanpa Tujuan Oleh M. Romyan Fauzan Para ahli di bidang pendidikan selalu membeberkan dan mengingatkan pentingnya pendidikan yang di antaranya adalah mengenyam dunia s
Artikel Pendidikan: Mendidik dengan Humor
Mendidik dengan Humor Oleh M. Romyan Fauzan Pada tahun 90-an, barangkali tidak aneh ketika seorang murid di pengajian dipukul dengan sebatang rotan karena kesalahannya. Siswa-siswi di
Mengapa Harus di Al-Fatah?
Kita tak pernah tahu mengapa sebuah jalan dibuat, selain untuk sebuah tujuan dalam perjalanan. Begitu pun hidup, jalan yang kita tapaki adalah bagian dari takdir. Namun demikian, ada ta
