• MA AL FATAH
  • CHARACTER IS IMPORTANT BUT AKHLAK IS MORE

Artikel Pendidikan: Sastra(Wan) Membaca Kurikulum, Guru Membaca, dan Membaca Guru

Sastra(Wan) Membaca Kurikulum, Guru Membaca, dan Membaca Guru

Oleh M. Romyan Fauzan

kita pernah punya mimpi seragam

menggembalakan masa lalu dan masa kini

di atas ladang-ladang mati

seolah mampu memetakan hari

dengan bahasa sendiri

                                                                                                *Kutipan puisi "Perjalanan" karya Oka Rusmini

Sastra(Wan) Membaca Kurikulum

Perdebatan, yang menuai pro dan kontra, mengenai karya apa saja yang harus ada dalam kurikulum sehubungan dengan adanya program “Sastra Masuk Kurikulum” menghangat di media sosial, khususnya di kalangan pegiat sastra.

Perdebatan muncul karena adanya pertanyaan-pertanyaan, perihal siapa yang layak dan tidak layak karyanya masuk ke dalam program tersebut? Juga kecurigaan kepada kurator buku, yang juga pegiat sastra, yang karyanya masuk ke dalam rekomendasi bacaan dalam program tersebut, ada pula yang menyingung kanonisasi kesusastraan, ada juga yang mengritik kesalahan data informasi riwayat hidup sastrawan yang disajikan, juga ada yang tidak rela bukunya dijadikan rekomendasi, juga ada yang mempertanyakan bukunya yang tidak masuk ke dalam program itu, dan sebagainya dan sebagainya hingga perdebatan itu melebur tanpa arah yang pasti.

Sifat media sosial yang kadang dijadikan sebagai isu dan fakta tanpa batas yang jelas, membuat perdebatan ini meluas sekaligus membias. Alhamdulillah meluas menjadi diskusi-disuksi di ranah komunitas sastra, meski di kolom-kolom komentar maya menjadi  tidak melulu serius pada akhirnya, sekaligus membias sebab tidak menjadi jawaban yang terukur dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

Dari apa yang telah disimak itu, penulis sendiri memiliki tiga poin simpulan yang berhubungan dengan perdebatan, pertama adalah perdebatan perihal karya sastranya, kedua perihal sastrawannya, ketiga perihal programnya. Jika poin-poin itu dibahas dengan detail, barangkali akan bisa dibedah dengan lebih terukur dan tertib. Jika dicampuradukkan tanpa dibedah dahulu masing-masing poinnya, terjadilah pembiasan. Tidak ada kedalaman dari apa yang sedang diperdebatkan.

Namun demikian, perdebatan di ruang maya itu sesuatu yang menggembirakan. Karena dengan perdebatan itu pula kesusastraan hidup. Jika tidak ada kontroversi, bisa jadi tidak ada yang menggubris karya-karya juga sastrawannya yang telah direkomendasikan itu. Tidak akan ada yang membuka wacana tentang karya-karya itu di depan khalayak sebelum ini. Atau karena jarak dan sebagainya, saya kurang mengetahuinya dengan tartil tentang kejadian-kejadian ketika berlangsung pembedahan karya-karya itu. Padahal yang berdebat itu memang sudah menguasai interpretasi karya-karya yang sedang diperbincangkan, sedang saya tidak.

Setidaknya saya, yang mengajar Bahasa Indonesia di sebuah Madrasah swasta kampung di ujung Bandung Selatan, di pinggiran hulu Citarum, tahu bahwa ada 177 karya yang sedang diperdebatkan dari media sosial. 177 karya yang barangkali hanya setengahnya saja yang pernah saya baca, atau mungkin jauh lebih sedikit dari itu. Merasa bahagia sebab dari kampung yang jauh ini, pemerintah peduli lebih dengan dunia membaca. Sekaligus juga sedih karena kebijakannya baru muncul tahun ini, yang jika bertahun lalu program ini muncul, mungkin lebih dari 177 karya yang bisa saya kenal, lebih banyak lagi penulis yang saya coba pahami karyanya, dan mungkin perdebatan ini sudah berlalu dan bisa dibayangkan semua sudah bisa menikmati karya-karya yang melimpah.

Guru Membaca, Membaca Guru

Membaca adalah sebuah kebahagiaan yang menguntungkan rasa dan pikir, terlebih perasaan dan pikiran itu harus disampaikan lagi ke dalam perasaan dan pikiran orang lain, dalam hal ini murid. Guru memang idealnya adalah seorang pembaca yang serius, karena mereka harus membagikan dan memberi ilmu kepada diri dan murid-muridnya.

Guru bahasa Indonesia tentu juga harus menjadi pembaca serius di dunia linguistik, filologi, sastra, dan begitu banyak karya sastra karena itulah dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru bahasa Indonesia. Belum lagi teknik mengajar, metode pembelajaran, dan sebagainya. Untuk guru bahasa Indonesia, ketika ia kuliah tingkat sarjana, semua itu sudah dipelajari. Tapi ragu jika semua yang dipelajari itu bisa menjadi bekal yang konsisten ketika proses pembelajaran berlangsung. Itulah yang saya rasakan, semoga guru yang lain tidak.

Barangkali jika ada yang berminat untuk mengukur sejauh mana pengetahuan membaca guru, sebanyak apa buku yang dibaca oleh guru bahasa Indonesia akan menjadi menarik. Karena semakin banyak membaca buku, semakin paham dan bisa menilai, membandingkan, mana yang pantas dan tidak untuk dijadikan bahan bacaan bagi murid-muridnya. Sebab bagaimana guru mau menugaskan muridnya membaca jika gurunya sendiri tidak tahu bahan bacaan yang baik? Jika guru lemah dalam membaca, jika memang ini yang terjadi di negeri ini, sungguh sesuatu yang sangat  mengkhawatirkan.  Semoga di negeri ini guru-gurunya senang membaca berbagai buku referensi yang berhubungan dengan bidang keilmuannya.

Program asesmen untuk guru yang ada pada saat ini, yang sebagian besar berbasis literasi bisa mengarah ke ranah tersebut. Pengukuran kinerja guru bahkan kepala sekolah berbasis literasi bisa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan membaca guru dengan evaluasi yang jelas di setiap jenjang dan waktu. Meski tidak mudah, namun ini bisa dilakukan jika semua melakukannya di bawah aturan dan pelaksanaan yang tertib dan terus-menerus.

Kenapa harus berpijak pada aturan? Sebab menjadi guru yang di setiap ganti kepemimpinan negara, juga berganti kurikulumnya adalah sesuatu yang sudah biasa terjadi di negara tersayang ini. Guru akan taat pada apa yang telah dituliskan oleh aturan. Jika harus membuat RPP setiap semester, guru akan melakukannya. Jika harus berganti membuat soal untuk siswa dengan HOTS dan sebagainya, guru akan melakukannya. Jika ada aturan apapun yang telah ditandatangani, guru akan takut pada aturan-aturan itu dan menurutinya.

Di sisi lain, guru berharap semua perubahan-perubahan yang tak pernah berhenti itu adalah niat baik dari pembuat konsep tentang pendidikan di negara ini. Bermacam ragam pelajaran yang lebih dari lima belas jumlahnya dan bermacam program kebijakan, masih dan akan terus ada.  Termasuk adanya program “Sastra Masuk Kurikulum” ini. Begitulah yang saya, dan semoga guru yang lain rasakan.

Lalu apakah tugas guru selesai di situ?

Selain membaca untuk modal pengajaran, ada sisi lain yang barangkali tidak semua orang paham. Misalnya saja dengan apa yang saya rasakan. Setiap masuk kelas, melihat wajah-wajah mereka, yang tidak lain adalah anak-anak para buruh tani, yang sepertinya untuk bercita-cita pun ragu-ragu. Saya selalu mendoakan mereka untuk menjadi seseorang yang minimal berguna untuk diri sendiri, maksimal tidak meruwetkan orang tua nantinya. Betapa bahagianya setiap pagi untuk berbagi ilmu yang terbatas ini. Berjuang untuk mereka yang setiap hari mencium bau cangkul, begitu mengharukan. Seperti apa yang dikatakan Ahda Imran dalam sajaknya, aku menembus seluruhnya/ kesedihan dan kebahagiaan.

Perkenalan mereka dengan karya-karya pun sangatlah terbatas. Jika harus mewajibkan membeli novel, buku puisi, biografi, atau bahkan buku pelajaran, mungkin orang tuanya akan berdemo berhari-hari karena uangnya hanya cukup untuk uang jajan harian anak-anaknya. Padahal cita-cita seorang guru Bahasa Indonesia tentu saja melihat anak didiknya membawa novel atau buku bacaan apapun. Akan sangat gembira untuk mengetahui siapa itu Eka Kurniawan, Saut Situmorang, Iyut Fitra, Felix K. Nesi, dan banyak lagi karya penulis lainnya.

Bersyukur masih ada perpustakaan nyata yang mungil, yang menjadi satu-satunya sumber bacaan di sekolah. Sebab saya selalu yakin bahwa buku itu harus berbentuk kertas, sebab saya ragu dengan keberadaan perpustakaan digital yang belum menjadi biasa dan belum terukur keberhasilannya. Memangnya perpustakaan nyata yang mungil itu bisa menjamin lebih berhasil dibanding perpustakaan digital? Belum tentu juga. Setidaknya wangi kertas itu tidak terganggu dengan halaman lain yang isinya seluruh informasi dunia di layar seluler.

Platform digital adalah sebuah terobosan yang baik dalam Kurikulum Merdeka, sebab semua bisa mengaksesnya. Mulai dari guru, siswa, juga orang tua. Tantangannya adalah jika harus mewajibkan mereka mempunyai telepon seluler, selain kemampuan orang tua yang berbatas, mereka harus memiliki kuota untuk menggunakannya. Ini bukan keluhan, namun kita harus berpijak pada kenyataan.

Untuk itu sangat beruntung sesekali ada yang menyumbang buku, betapa bersyukur karena ruang itulah satu-satunya yang menjadi harapan mereka untuk menambah sumber bacaan dari buku. Apakah itu buku yang bagus atau tidak? Tentu untuk pembaca serius adalah sebuah masalah. Tapi untuk pembelajar dengan kondisi demikian, dengan waktu dan lainnya yang berbatas, saya tidak mungkin untuk mengelilingkan satu karya Pram untuk dibaca puluhan orang hingga selesai per orangnya.  

Ini barangkali hanya salah satu contoh dari sekian banyak yang dirasakan oleh guru-guru dan sekolah di negeri tercinta ini.

Menjadikan membaca sebuah kebutuhan sepertinya masih jauh panggang dari api, sebab mengajarkan pemahaman tentang membaca saja masih terus diperjuangkan. Oleh karena itu, perkenalan dengan buku, apapun itu, adalah satu-satunya jalan untuk mengenalkan anak-anak buruh tani ini untuk belajar membaca memahami, memahami apa itu membaca.

Barangkali yang entah kapan itu, barulah tindak lanjut untuk menjadikan siswa memahami  menulis karya. Atau bisa saja semua dilangsungkan seperti hari ini, mulai membaca, menyimak, berbicara, dan menulis ditambah dengan penilaian perilaku dan sikap dari setiap murid. Berikut konsekuensinya yaitu ketidakmendalaman pemahaman tentang itu semua.

“Sastra Masuk Kurikulum”, yang merupakan turunan dari program Episode Merdeka Belajar 15: Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar. Program ini dirancang untuk memperkenalkan siswa pada beragam karya sastra dari berbagai budaya dan periode waktu (https://buku.kemdikbud.go.id/sastra-masuk-kurikulum).

784 halaman buku Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra, pemanfaatan buku sastra dalam implementasi Kurikulum Merdeka bertujuan untuk meningkatkan minat baca, menumbuhkan empati, dan mengasah kreativitas, serta nalar kritis peserta didik di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah (https://buku.kemdikbud.go.id/sastra-masuk-kurikulum).

Tentu itu adalah tujuan yang alangkah mulia. Tinggal kita lihat pembuktiannya. Meski tidak bisa terlepas dari perdebatan yang muncul, adalah sebuah harapan baik, yang sebetulnya bisa dilaksanakan dengan catatan dan tantangan yang tentu tidak mudah untuk dilalui karena melibatkan berbagai pihak yang jumlahnya bermacam-macam, dan masalah yang beragam seperti kehidupan.  

Oleh karena itu. Supaya semua berjalan beriringan. Bukan hanya pemerintah, kurator, dan penyusun dalam hal ini yang berkuasa atas program. Namun juga pelaksana di sekolah yakni kepala sekolah, wakil kepala kurikulum, guru pelajaran, murid, (yang mengemban tugas untuk melaksanakannya di sekolah) dan orang tua murid sebagai penanggung hidup murid. Dan tentunya sastrawan berikut karyanya yang sudah barang tentu akan selalu berguna bagi bangsa ini. Sudah saatnya berbagi peran sesuai dengan keahlian masing-masing, dengan batas masing-masing, dengan komunikasi yang baik di antara semuanya jika ada yang keliru.

Meski itu rumit, namun kenyataannya memang sulit jalan keluarnya.

 

1 Komentar

MEMOTIVASI UNTUK LEBIH GIAT MEMBACA BUKU UNTUK SEMUA KALANGAN

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Sejenak Puisi : Puisi Karya M. Romyan Fauzan

Agustus yang Baik  Karya M. Romyan Fauzan Kemerdekaan adalah mencintaimu dengan tabah, kekasih. Sehelai bendera dipeluk angin diguyur hujan dibakar matahari, tegak mengibari cakr

16/08/2023 23:09 - Oleh Administrator - Dilihat 113 kali
Artikel Pendidikan: Study Tour atau Liburan?

Study Tour atau Liburan? Oleh M. Romyan Fauzan Liburan adalah sebuah peristiwa di mana orang-orang menikmati waktu istirahat setelah sekian lama beraktifitas. Jika biasanya di akhir m

04/08/2023 23:35 - Oleh Administrator - Dilihat 807 kali
Artikel Pendidikan: Sekolah Ber- dan Tanpa Tujuan

Sekolah Ber- dan Tanpa Tujuan Oleh M. Romyan Fauzan Para ahli di bidang pendidikan selalu membeberkan dan mengingatkan pentingnya pendidikan yang di antaranya adalah mengenyam dunia s

31/07/2023 21:54 - Oleh Administrator - Dilihat 427 kali
Artikel Pendidikan: Mendidik dengan Humor

Mendidik dengan Humor Oleh M. Romyan Fauzan Pada tahun 90-an, barangkali tidak aneh ketika seorang murid di pengajian dipukul dengan sebatang rotan karena kesalahannya. Siswa-siswi di

26/07/2023 21:33 - Oleh Administrator - Dilihat 105 kali