Artikel Pendidikan: Study Tour atau Liburan?
Study Tour atau Liburan?
Oleh M. Romyan Fauzan
Liburan adalah sebuah peristiwa di mana orang-orang menikmati waktu istirahat setelah sekian lama beraktifitas. Jika biasanya di akhir minggu peserta didik menikmati liburan yang hanya satu atau dua hari, berbeda dengan liburan setelah UAS semester genap telah dilaksanakan. Ada waktu istirahat yang cukup panjang pada saat tersebut. Menurut Prof. Ernie, liburan sangat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama yang sedang stres. Hiruk pikuk sekolah bisa saja membuat peserta didik mengalami stress karena banyaknya pelajaran menjejali. Ketika libur tiba, banyak sekolah yang memanfaatkan liburan untuk study tour, atau jika ditafsirkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih perjalanan yang bertujuan untuk belajar.
Kita semua harus berangkat lagi dari dasar pemahaman apa itu belajar dan apa itu berlibur karena bagaimanapun konsep dasar itu penting untuk dijadikan pegangan dalam mendidik seseorang. Tidak ada batasan untuk belajar, bahkan ketika berlibur, jika perlu memberikan tugas untuk refleksi selama satu tahun dalam pembelajaran.
Study tour sebetulnya merupakan sebuah kesempatan bagi sekolah manapun untuk mencari bentuk pembelajaran yang lain. Banyak manfaat yang bisa diambil dari perjalanan belajar tersebut. Jika perjalanan tersebut dilakukan ke sebuah tempat wisata misalnya, kita akan belajar banyak tentang sejarah sebuah tempat, perekonomian sebuah daerah, keadaan alam, bahasa, dan begitu banyak lagi hal yang berhubungan dengan pembelajaran. Saya kira tidak ada salahnya peserta didik diajak untuk lebih memahami pembelajaran dari kehidupan nyata. Contoh lainnya ketika perjalanan dilakukan ke museum-museum, kita bisa dapat banyak ilmu pula dari tempat-tempat tersebut.
Entah kapan istilah tersebut mulai dipakai sebagai bagian dari kegiatan liburan, yang pasti saat ini istilah tersebut sudah menjadi milik umum dengan penafsiran yang bias. Namun sepertinya orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan harus kembali mempertanyakan istilah study tour tersebut dalam konsep pelaksanaannya. Ada beberapa kekeliruan yang penulis lihat dari pelaksanaan study tour ini.
Pertama adalah tujuan dari study tour tersebut. Apakah ketika sebuah rombongan dari sekolah melaksanakan tujuannya dengan benar untuk belajar di sebuah tempat? Pernah saya mengikuti study tour di sekolah saya sendiri dan ketika berada di tempat yang dituju, apa yang dilakukan jauh dari kata belajar. Di pantai tersebut, siswa ataupun guru malah melakukan kegiatan liburan seperti bermain air di pantai atau berbelanja ikan asin. Ini hanya salah satu contoh dari sekian banyak kegiatan study tour yang sering dilaksanakan.
Kedua adalah pemberian kesadaran terhadap peserta didik tentang arti belajar dan arti berlibur. Ini memang hanya masalah istilah, tapi justru di sinilah pentingnya kita memahami sesuatu dari hal-hal yang kecil. Mendidik itu tidak bisa langsung dengan hal-hal yang besar, kita bisa memberikan penyadaran dari hal-hal kecil bahkan dari sebuah istilah. Efek yang akan diakibatkan dari ketidaksadaran seseorang dalam memahami sebuah istilah bisa menjadi besar. Bahwa study adalah main-main atau liburan akan menjadi absurd nanti ketika berada di kelas. Kita tentu tidak ingin pelaksanaan belajar di kelas dianggap sebagai main-main atau disamakan dengan suasana liburan membeli ikan asin.
Pelaksanaan study tour yang sudah dilangsungkan sekian lama kini telah bias maknanya. Selagi masih ada waktu, ada baiknya kita yang hidup di dunia pendidikan memberikan aturan yang jelas tentang hal tersebut. Jangan sampai kita larut dalam kekeliruan antara study tour dan berlibur. Kalaupun tidak sampai sejauh itu, kita bisa memberikan pemahaman yang lebih mendidik kepada peserta didik tentang apa itu study tour dan liburan dengan pelaksanaan yang nyata. Karena jika hanya sebatas wacana, pemahaman semacam ini akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan pendidikan kita.
Jika kita mengaitkannya pada ranah agama, tentu saja yang bertanggung jawab kepada study tour akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. Karena salah memberi judul, tidak mau peduli membedakan antara study atau liburan. Alih-alih mengajak siswa bergembira, yang ada malah dosa. Bukankah itu celaka!
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Artikel Pendidikan: Sastra(Wan) Membaca Kurikulum, Guru Membaca, dan Membaca Guru
Sastra(Wan) Membaca Kurikulum, Guru Membaca, dan Membaca Guru Oleh M. Romyan Fauzan kita pernah punya mimpi seragam menggembalakan masa lalu dan masa kini di atas ladang-ladang mati
Sejenak Puisi : Puisi Karya M. Romyan Fauzan
Agustus yang Baik Karya M. Romyan Fauzan Kemerdekaan adalah mencintaimu dengan tabah, kekasih. Sehelai bendera dipeluk angin diguyur hujan dibakar matahari, tegak mengibari cakr
Artikel Pendidikan: Sekolah Ber- dan Tanpa Tujuan
Sekolah Ber- dan Tanpa Tujuan Oleh M. Romyan Fauzan Para ahli di bidang pendidikan selalu membeberkan dan mengingatkan pentingnya pendidikan yang di antaranya adalah mengenyam dunia s
Artikel Pendidikan: Mendidik dengan Humor
Mendidik dengan Humor Oleh M. Romyan Fauzan Pada tahun 90-an, barangkali tidak aneh ketika seorang murid di pengajian dipukul dengan sebatang rotan karena kesalahannya. Siswa-siswi di
