Artikel Pendidikan: Mendidik dengan Humor
Mendidik dengan Humor
Oleh M. Romyan Fauzan
Pada tahun 90-an, barangkali tidak aneh ketika seorang murid di pengajian dipukul dengan sebatang rotan karena kesalahannya. Siswa-siswi di sekolah formal pun demikian, kadang bagi yang tidak mengerjakan PR, menjadi biasa jika di bawah tiang bendera diperintahkan untuk berdiri terpanggang matahari hingga berjam-jam. Ospek mahasiswa pun sama, ketika ada ospek lapangan, sudah menjadi hal lumrah jika ada sedikit kekerasan yang dilakukan senior kepada mahasiswa barunya.
Peristiwa tersebut berlangsung sekian lama, sampai pada tahun 2002 muncullah landasan hukum perihal kekerasan fisik, yaitu pasal 80 UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dari keempat ayat dalam undang-undang tersebut di antaranya, (1) Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bukan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuhpuluhdua juta rupiah).
Inilah yang menjadi landasan di dunia pendidikan dari berbagai peristiwa yang berujung di pengadilan. Beberapa waktu terakhir dunia pendidikan seakan diguncang oleh berita-berita perihal kekerasan dalam pendidikan. Pendidikan di sekolah yang takkan pernah lepas dari peran orang tua, siswa, dan guru harus memahami undang-undang tersebut untuk mendukung tidak terjadi hal yang berujung kekerasan, lebih menakutkan lagi berakhir penjara.
Perihal seorang siswa yang melaporkan gurunya karena terkena cubitan, seorang siswa yang dipukul wajahnya hingga memar, ditampar guru dan menjadi stress, dan berbagai peristiwa lainnya ternyata tidak berakhir di situ, karena kemudian peristiwa tersebut dilaporkan oleh orang tua yang bersangkutan ke pengadilan. Jika berpijak pada undang-undang tersebut, rasa-rasanya tidak ada alasan bagi guru yang melakukan kekerasan tersebut untuk tidak dijatuhi hukuman. Jika memang harus berpijak pada undang-undang. Namun Indonesia adalah negeri yang penuh dengan sopan santun, saling menghormati satu sama lain, menghargai sesama manusia. Ada baiknya hal-hal demikian dibicarakan secara kekeluargaan perihal sebab dan akibatnya, jangan sampai merugikan satu sama lain.
Bagaimanapun juga seorang siswa dan orang tua membutuhkan guru. Itulah simbiosis mutualisme dalam dunia sekolah, dunia yang mendidik satu sama lain dari berbagai sudut pandang. Lalu dari peristiwa-peristiwa tersebut muncullah pertanyaan, apakah layak seorang guru berbuat kakerasan kepada seorang siswa?
Mendidik dengan Humor
Pada sebuah kesempatan, Gus Dur pernah melontarkan sebuah guyonan perihal perilaku anggota DPR, bahwa anggota DPR sudah tidak menjadi anak TK lagi setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 2004, “DPR dulu TK, sekarang Playgroup” kata beliau kepada wartawan. Ucapan Gus Dur tersebut sontak membuat seluruh negeri geger dan menjadi pergunjingan yang ditertawakan banyak orang di negeri kita ini. Tidak hanya kali itu beliau berguyon terhadap sesuatu dan membuat orang bahagia, sekaligus berpikir dengan ucapannya.
Apa yang dilakukan oleh Gus Dur tersebut adalah salah satu contoh bahwa di negeri ini sangat membutuhkan hiburan, butuh tertawa yang mendidik. “Laugh as much as possible, always laugh. It’s the sweetest thing one can do for oneself and one’s fellow human being.” Ungkapan dari Maya Angelou tersebut mengajak semua orang untuk tertawa sebanyak mungkin, karena dengan tertawa itu hal yang paling manis yang bisa dilakukan orang untuk dirinya dan orang lain. Ketika ada sebuah pesta pernikahan dua insan Tuhan, bisa dipastikan orang-orang datang ke pesta itu dengan senyum cemerlang, ikut berbahagia melihat dua insan itu bahagia. Semua orang haus kegembiraan.
Tersenyum diidentikkan tanda orang bahagia, tersenyum pun ibadah yang teramat mudah. Kanjeng Rosul selalu mengajarkan tentang cinta kasih dalam menjalani kehidupan, kelembutan dalam berkata-kata, kesantunan dalam berperilaku tercermin dari kebaikan yang ia ajarkan pada umat manusia. Bapak bangsa kita pun, Gus Dur, selalu menyampaikan sesuatu dengan rasa humor yang tinggi dan mendidik. Dua orang tersebut bisa menjadi panutan, atau bumbu yang enak dalam mendidik di sekolah.
Setiap orang memiliki kadar humor masing-masing, setiap orang juga selalu merindukan tawa dalam hidupnya. Kekerasan seorang guru, apapun alasannya sebetulnya memang kurang tepat. Jika belajar pada apa yang telah diteladankan orang-orang besar, mereka mengajar orang banyak dengan berbagai cara, termasuk dengan berguyon. Barangkali inilah jawaban di awal, apakah penting seorang guru melakukan kekerasan di kelas?
Jika ada cara yang lebih baik daripada memukul, mencubit, atau menampar, mengapa seorang guru tidak melakukan cara tersebut. Humor adalah salah satu jalan yang ringan dalam mendidik, selain membuat orang lain bahagia. Barbara Brown dalam laman livestrong menyampaikan lima kunci komunikasi efektif, yaitu senyum, berbicara dengan jelas, santai, variatif, serta dengar dan pahami. Selain penguasaan materi, komunikasi (di dalamnya ada senyum) adalah kunci bagi terciptanya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Lalu bagaimana membikin seorang guru menjadi lucu secara natural? Dalam id.m.wikihow.com dijelaskan ada tiga cara yang bisa menjadikan seseorang lucu. Pertama, mulailah dengan sikap santai, seorang guru yang datang dalam keadaan wajah tegang tentu akan membawa ketegangan bagi siswanya. Lebih sering tertawa dan tersenyum bisa menjadikan seorang guru lebih santai menghadapi siswa yang beragam sifatnya itu. Buatlah senyaman mungkin diri, karena bagaimana orang lain akan nyaman dengan seseorang jika dia tidak nyaman dengan dirinya sendiri.
Kedua, sikapi diri dan pandangan mengenai hidup dengan nyaman. Tak ada tempat paling nyaman di dunia ini selain diri sendiri. Ketika seseorang telah menjalani hidupnya dengan nyaman, akan menjadikan menjadikan seseorang itu lebih berpandangan luas dan tidak terkungkung. Menyikapi diri dengan pandangan yang senyaman mungkin terhadap segala hal bisa membuat rasa humor seseorang lebih besar lagi. Seorang guru yang nyaman berada di kelas akan menyampaikan materi ajar dengan baik. Hal itu dikarenakan tidak ada gangguan dalam diri guru tersebut.
Ketiga, carilah sisi humor dari kejadian sehari-hari. Menjadi seorang guru tentu sangat dekat dengan kehidupan siswa. Guru paham mana siswa yang nakal, baik, rajin, malas, dan berbagai sifat lainnya dari keseharian mereka. Penyampaian materi yang bersifat humoris bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa yang telah kita pahami sifatnya. Misalnya ketika mengajarkan Bahasa Indonesia, membuat contoh-contoh kalimat dari hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka. Keseharian akan lebih memudahkan siswa dalam menangkap materi ajar. Bumbu humor yang menarik bisa dijadikan alat untuk penyampaian materi tersebut.
Keempat, kunjungi teman atau kenalan yang memang lucu. Ketika berkunjung ke rumah seorang teman yang berperangai lucu, biasanya akan selalu tertarik dengan apapun yang ia bicarakan, atau mungkin gerak tubuhnya, atau hal-hal yang membuatnya menjadi bisa menghibur orang. Perhatikan dengan sadar apa saja yang membuat dirinya lucu. Hal itu akan membantu seorang yang ingin belajar humor untuk terbiasa dengan hal-hal lucu. Seorang guru yang baik tidak akan pernah malu untuk belajar pada siapapun, bahkan dari siswanya sendiri. Kadang beberapa orang siswa di kelas yang selalu membuat seorang guru tertawa. Hal itu bisa dijadikan modal dalam rangka menjadi seorang guru yang lucu.
Kelima, lakukan riset tentang beberapa gaya komedi. Ahli-ahli komedi di dunia hiburan mempunyai gaya tersendiri ketika ia melakukan candaannya. Seorang Charlie Chaplin atau Rowan Atkinson hanya mengandalkan gerakan untuk membuat orang lain tertawa. Sementara yang lainnya dengan gaya bercerita, seperti komika. Beberapa lagi dengan gaya yang berbeda-beda. Gaya komedi tersebut bisa dijadikan acuan ketika mau menjadikan diri seseorang pandai dalam berhumor. Walau tujuannya berbeda dengan seorang guru, tetapi dasar-dasar yang dimiliki oleh master di bidang humor itu sangat bisa menjadi acuan untuk kemudian di praktikkan di kelas.
Keenam, latihlah kemampuan melucu. Latihan adalah salah satu kunci sukses dalam menghadapi apapun. Begitupun dengan melucu, kemampuan itu tidak akan datang dalam hitungan jam, penting untuk melatih diri menjadi bisa lucu di hadapan seseorang. Bercerita sesuatu hal yang menurut diri lucu bisa membantu latihan tersebut untuk kemudian disampaikan pada orang-orang di sekitar. Seorang guru yang ingin membuat dirinya lucu di hadapan siswanya bisa melatih dirinya setiap hari dengan berbagai cara.
Semua orang mencari kebahagiaan di muka bumi ini, tak terkecuali di dunia pendidikan. Tidak hanya siswa, bahkan guru serta orangtua pun sama-sama membutuhkan kebahagiaan itu. Kadang dengan harga mahal seseorang harus membeli kebahagiaan. Tak mudah memang untuk menjadikan seseorang terpenuhi kebahagiaannya disebabkan keinginan masing-masing berbeda-beda. Namun hal itu bisa disederhanakan dengan memberi kebahagiaan dengan membuat orang lain tersenyum.
Menjadikan diri lucu bukan berarti menurunkan derajat seorang guru dengan melawak di depan siswa-siswinya. Penyampaian materi dengan bumbu humor bisa menjauhkan kekerasan yang akhir-akhir ini selalu menjadi pemberitaan yang mengerikan di dunia pendidikan. Kelucuan seorang guru bisa menjadikan siswa lebih tertarik untuk menanti kehadiran guru tersebut. Penyampaian secara cerdas sangat bisa dilakukan dengan rasa humor yang tinggi.
Pada akhirnya, menjadi seorang guru yang memiliki rasa humor yang tinggi memang hanya sebuah pilihan. Masih banyak cara untuk menjadikan siswa di kelas paham pada apa yang disampaikan oleh seorang guru kepada siswanya. Namun membuat orang lain tertawa bahagia rasa-rasanya akan lebih baik dibanding dengan berakhir di penjara.
Tentang Penulis
Muhammad Romyan Fauzan, Lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana UPI Bandung, S1 Sastra Indonesia Unpad. Pengajar di Yayasan Pesantren Al-Fatah, Cikembang, Kec. Kertasari, Kab. Bandung. Penikmat Bahasa dan Sastra Indonesia. Berkegiatan di Majelis Sastra Bandung, Komunitas Jendela Kata Kita, Komunitas Malaikat, dan Laskar Panggung Bandung. Buku Pertamanya adalah sekumpulan esai berjudul “Perempuan dalam Bingkai Budaya Visual” penerbit Garudhawaca. Buku yang memuat tulisannya adalah “Bandung Ibukota Asia-Afrika”, “Riksa Bahasa V”, “Antologi puisi yang memuat tulisannya “Di Kamar Mandi (62 Penyair Jawabarat Terkini)”, “Jejak Sajak”, “Senyawa Kata Kita”, “Wirid Angin”, “Semar Gugat”, “Sauh Seloko (Pertemuan Penyair Nusantara VI)”, Festival Sastra Pawon, dll. Tulisannya dimuat di harian Pikiran Rakyat, Suara Daerah, Majalah Naordnik, Jurnal Sastra Digital, KalaNews.com, Panditfootball, dll. Menyunting beberapa buku kumpulan puisi dan cerpen. Selain mengikuti berbagai kegiatan kesenian, juga mengikuti berbagai seminar bahasa dan budaya. Pemakalah seminar Internasional Forum Bahasa Ilmiah UPI.
Tulisan Lainnya
Artikel Pendidikan: Sastra(Wan) Membaca Kurikulum, Guru Membaca, dan Membaca Guru
Sastra(Wan) Membaca Kurikulum, Guru Membaca, dan Membaca Guru Oleh M. Romyan Fauzan kita pernah punya mimpi seragam menggembalakan masa lalu dan masa kini di atas ladang-ladang mati
Sejenak Puisi : Puisi Karya M. Romyan Fauzan
Agustus yang Baik Karya M. Romyan Fauzan Kemerdekaan adalah mencintaimu dengan tabah, kekasih. Sehelai bendera dipeluk angin diguyur hujan dibakar matahari, tegak mengibari cakr
Artikel Pendidikan: Study Tour atau Liburan?
Study Tour atau Liburan? Oleh M. Romyan Fauzan Liburan adalah sebuah peristiwa di mana orang-orang menikmati waktu istirahat setelah sekian lama beraktifitas. Jika biasanya di akhir m
Artikel Pendidikan: Sekolah Ber- dan Tanpa Tujuan
Sekolah Ber- dan Tanpa Tujuan Oleh M. Romyan Fauzan Para ahli di bidang pendidikan selalu membeberkan dan mengingatkan pentingnya pendidikan yang di antaranya adalah mengenyam dunia s
